|
DETEKSI
DINI KANKER PAYUDARA
Nina
I.S.H. Supit
PENDAHULUAN
Deteksi Dini Kanker, sangat perlu karena penyakit kanker merupakan
salah satu penyakit masa depan disamping penyakit degeneratif lain
seperti kardiovaskuler dan sudah dapat dipastikan bahwa deteksi
dan diagnosa dini serta penanganan terapi yang adekuat akan menghasilkan
prognosa yang baik dan dengan cara itu penyakit kanker tidak perlu
ditakuti.
Makin dini stadium kanker diketahui semakin besar kemungkinan untuk
sembuh dan kita ketahui bahwa untuk dapat menyembuhkan kanker dengan
cara pembedahan, penyinaran dan khemoterapi diperlukan penemuan
penyakit sebelum sel-sel kanker menyebar ( stadium dini ) sehingga
diperoleh hasil pengobatan yang memuaskan.
Saat ini angka kejadian dan kesakitan keganasan payudara masih tinggi
tidak hanya di Indonesia akan tetapi juga di negara-negara maju
keganasan payudara masih menjadi salah satu keganasan yang terbanyak
pada wanita.
Penatalaksanaan keganasan payudara telah mengalami kemajuian yang
sangat pesat, akan tetapi walaupun demikian angka kematian dan angka
kejadian keganasan payudara masih tetap tinggi, hal ini disebabkan
penderita ditemukan pada stadium lanjut dan oleh karena itu deteksi
dan diagnosa dini keganasan payudara memegang peranan sangat penting
untuk memperbaiki prognosa disamping faktor klinis lainnya. Apabila
keganasan payudara dapat terdeteksi secara dini dan mendapat penanganan
yang secepatnya maka akan memberikan harapan kesembuhan dan harapan
hidup yang lebih baik
Dengan semakin majunya IPTEK makin banyak pula dihasilkan alat-alat
canggih sebagai sarana penunjang dalam bidang radiologi, akan tetapi
sampai saat ini masih merupakan pemeriksaan unggulan dalam mendeteksi
keganasan payudara adalah mamografi. Di negara-negara maju pemeriksaan
mamografi merupakan pemeriksaan rutin dalam kegiatan skrining keganasan
payudara terutama pada wanita dewasa diatas usia 40 tahun, yang
pada usia tersebut kekerapan akan terjadinya keganasan payudara
makin meningkat.
DETEKSI DINI KEGANASAN PAYUDARA
Karena letak payudara diluar maka seharusnya gejala awal dapat segera
ditemukan oleh setiap wanita, oleh karena itu setiap wanita harus
mengambil peran aktif dalam mendeteksi secara dini keganasan payudara,
dimana secara rutin dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan payudara
sendiri. Karena ternyata 75% - 85% keganasan payudara ditemukan
pada saat dilakukan pemeriksaan payudara sendiri.
Pemeriksaan mamografi sebagai sarana penunjang diagnostic hingga
saat ini masih menjadi pemeriksaan unggulan dengan kemampuan yang
tinggi dalam skrining maupun akurasinya dalam hal deteksi dini keganasan
payudara. Ketepatan pemeriksaan mamografi ini berbeda-beda menurut
laporan dimana berkisar antara 83% - 95%.
MAMOGRAFI
Tujuan utama pemeriksaan mamografi adalah untuk deteksi dini keganasan
payudara. Mamografi terutama berperan pada payudara yang mempunyai
jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglanduler yang relatif
lebih sedikit.
Posisi utama yang digunakan adalah kraniokaudal dan mediolateral
dengan posisi dan kompresi yang benar serta baik untuk mendapatkan
hasil yang optimal, dimana penderita berdiri atau duduk didepan
pesawat mamografi, dengan meja yang dapat digerakkan, lalu penderita
meletakkan payudara yang akan diperiksa diatas meja tersebut. Pemotretan
dengan arah sinar vertikal untuk posisi kraniokaudal dan arah sinar
horizontal untuk posisi mediolateral.
Juga dikenal posisi lateromedial dan untuk melihat aksila bebas
dari tulang iga yaitu axillary projection.
Kapan
Mamografi dilakukan :
1. Adanya benjolan
dan rasa tidak enak pada payudara
2. Pada wanita dengan riwayat resiko tinggi untuk mendapatkan keganasan
payudara
3. Pembesaran kelenjar getah bening pada daerah ketiak yang meragukan
4. Penyakit Paget's pada puting susu
5. Adanya penyebab metastasis tanpa diketahui asal tumor primer
6. Pada penderita dengan cancer phobia
7. Follow up penderita-penderita pasca operasi dengan kemungkinan
kambuh atau keganasan payudara yang kontralateral.
Gambaran keganasan
payudara yang dapat ditemukan pada mamografi :
· Tanda
primer berupa lesi berdensita padat dengan reaksi fibrosis, comet
sign ( stellata ), adanya perbedaan yang nyata antara ukuran pada
pemeriksaan secara klinis dengan hasil mamografi, adanya perkapuran
yang bersifat mikro atau tampak distorsi pada struktur arsitektur
payudara / spikulae.
·
Tanda sekunder berupa penarikan dan penebalan kulit, perubahan
posisi / penarikan puting susu dan keadaan daerah tumor dengan
jaringan sekitarnya menjadi tidak teratur.
Gambaran mamografi
pada tumor jinak adalah sebagai berikut :
1.
Lesi dengan densitas meningkat, batas tegas dan licin serta teratur
2. Adanya "halo" disebabkan pedesakan jaringan sekitar
tumor terutama jaringan lemak yang menyebabkan gambaran hitam melingkar
seluruh atau sebagian tumor kadang - kadang tampak perkapuran yang
kasar dan umumnya dapat dihitung
KESIMPULAN
·
Mamografi relatif mudah dan murah untuk mendeteksi secara dini adanya
keganasan payudara dengan ketepatan/akurasi yang tinggi.
·
Sangat penting mengadakan skrining pertama kali mamografi pada wanita-wanita
berusia 35 tahun - 40 tahun terutama bagi yang resiko tinggi.
· Pemeriksaan Payudara Sendiri adalah salah satu bentuk peran
aktif kaum wanita dalam mendeteksi dini keganasan payudara
KEPUSTAKAAN
1. Basset W. Lawrence,
Mariana Y, Richard G, Catherine Y : Usefulness of Mammography and
Sonography in Women Less than 35 years of age. Radiology 1991; 180
: 831 - 835
2. de paredes Ellen shaw, Luisa P.M, Bernard V.E : Breast Cancer
in Women 35 years of Age and Younger Mammographic Finding. Radiology
1990 ; 177 : 117 - 119
3. Egan RL : Breast Imaging, Diagnostic and Morphology of Breast
Disease, WB. Saunders Company, Philadelphia 1988 : 59 - 72
4. Haffy G. Bruce, Phyllis Kornguth, Diana Ficher, Malcolm Beinfild,
Charles Mc Khann : Mammographycally Detected Breast Cancer. Cancer
1991:67:2801 - 2804
5. Heywang S.H - Kobrunner, Ingrid Scheer, Dershaw DD : Diagnostic
Breast Imaging, Georg Thieme Verlag, Stuttgart. New York 1997
6. Makes D : Peranan Radiodiagnostik dan Imaging Dalam Penemuan
Dini Kanker Payudara. Buku Kanker Paru dan Payudara. Jakarta 1986;
112- 119
|