Copyright © 2004, by RS. Pantai Indah Kapuk
Last Updated :
Best Viewed with IE 6.0in
1024 x 768 screen resolution


... Hidup Tidak Sunyi dengan Implan Koklea
Gangguan fungsi pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan keadaan ketergantungan dari anggota masyarakat yang terkena terhadap kelompok masyarakat yang sehat. Gangguan fungsi pendengaran pada anak akan menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan kemampuan bicara dan belajar. Seseorang tidak bisa bicara karena dia tidak bisa mendengar dan meniru suara yang terdengar.
Salah satu bentuk gangguan tersebut adalah tuli saraf (sensorineural hearing loss) atau tuna rungu (bisu tuli). Menurut survey Departemen Kesehatan tahun 1994 - 1996 ditemukan 1 orang tuna rungu dalam 1000 orang penduduk. Tidak semua kasus tuli saraf dapat diatasi dengan Alat Bantu Dengar (ABD) konvensional.

Sejak tahun 1982 mulai dikenal suatu alat bantu dengar yang menggunakan teknologi canggih yang dapat membantu kasus - kasus tuli saraf berat yang tidak dapat diatasi dengan ABD. Alat tersebut dikenal sebagai implan koklea (Cochlear Implant). Alat ini terdiri dari komponen luar berupa mikrofon, speech processor dan transmitter serta komponen dalam berupa receiver dan elektroda.

Cara kerja Implan Koklea adalah sebagai berikut : impuls suara ditangkap oleh mikrofon, diteruskan ke speech processor yang menyeleksi informasi suara yang sesuai menjadi kode suara yang disampaikan ke transmitter. Kode suara dipancarkan melalui kabel dan menembus kulit menuju receiver atau stimulator yang berubah menjadi sinyal listrik dan diteruskan menuju elektroda - elektroda yang sesuai di dalam koklea yang merangsang serabut - serabut saraf. Saraf pendengaran ini meneruskan ke otak dan menerjemahkan informasi ini sebagai suara.
Pada speech processor terdapat sirkuit listrik khusus yang berfungsi meredam bising lingkungan.


Gbr1.
Komponen Luar : Microphone, Speech Processor, Transmitter


Gbr2.
Komponen Dalam : Receiver, elektrode

Indikasi pemasangan implan koklea adalah anak dengan gangguan tuli saraf berat di kedua telinga yang tidak memperoleh manfaat dengan memakai alat bantu dengar dan orang dewasa yang telah memiliki kemampuan bahasa sebelumnya (post lingual).

Sebelum program ini dikembangkan di Indonesia, telah ada 30 anak Indonesia yang menggunakannya dengan mengikuti program ini di Australia, Amerika, Singapura, dengan segala macam kesulitan seperti biaya, waktu, bahasa, dll. Pengembangan program ini di Indonesia diawali oleh kelompok orangtua pengguna implan koklea pada akhir tahun 1999 dengan membentuk Yayasan Rumah Siput Indonesia. Selanjutnya Yayasan bekerja sama dengan Pusat Kesehatan Telinga dan Komunikasi Bagian THT FKUI - RSCM, RS Pantai Indah Kapuk memulai langkah pengembangan program di Jakarta.

Pada awal program mendapat bantuan dari Singapore General Hospital dan selanjutnya terus berkembang dengan program alih teknologi dan keterampilan melalui kerja sama dengan Cochlear Ltd, Australia.

Pelayanan Program Implan Koklea melalui beberapa tahap :

  1. Proses seleksi dan evaluasi kandidat.
    Dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran seperti BERA, Otoakustik Emisi, Timpanometri, Audiometri. Dilanjutkan dengan Auditory-Verbal Therapy (AVT) dengan memakai ABD untuk melatih kandidat berbicara dengan fokus pendengaran selama + 2 bulan. Setelah ABD diyakini tidak memberi manfaat, maka direncanakan untuk dilakukan operasi.
  2. Tindakan operasi dilakukan setelah pemeriksaan laboratorium, CT Scan dan atau MRI, konsultasi dokter Spesialis Anak, dokter Spesialis Anestesi dan psikologi. Operasi pemasangan Cochlear Implant harus dilaksanakan di rumah sakit dan umumnya berlangsung 3 sampai 4 jam. Operasi dilaksanakan dengan pembiusan total dengan tahap-tahap mastoidektomi, timpanostomi posterior, membuat tatakan (pad), kokhleostomi dan memasukkan electrode ke kokhlea.
  3. Proses rehabilitasi dilakukan dengan menyalakan elektroda / switch on ( pada minggu ke 2 - 3 pasca operasi) dan pemetaan / mapping, selanjutnya diteruskan dengan AVT untuk latihan bicara yang berfokus pada kemampuan mendengar.
Pada akhir Juli 2002 telah dilakukan operasi pemasangan implan koklea yang pertama kalinya di Indonesia dan dilaksanakan oleh dokter ahli Indonesia dengan bimbingan seorang dokter ahli dari Australia. Namun saat ini operasi Implan Koklea dapat dilaksanakan oleh Tim dokter Implan Koklea RS. PANTAI INDAH KAPUK yang seluruhnya dari Indonesia.

Dalam kurun waktu 3 tahun (Juli 2002 - November 2005) telah dilakukan pemasangan implan koklea pada 24 penderita tuli saraf berat. Dari evalusai yang dilaksanakan pada ke-24 pasien tersebut yang menjalani pemasangan implant koklea (satu pasien reimplantasi), didapatkan hasil sebagai berikut :

  • Mampu menyadari suara lingkungan, membedakan suara lingkungan dan membedakan suara bicara pada 19 pasien dalam jangka waktu 6 bulan.
  • Mampu memahami pembicaraan sehari - hari setelah menggunakan implant koklea selama 2 tahun.
  • Memahami percakapan timbal balik dan berkomunikasi menggunakan telepon pada 8 pasien setelah 2 tahun menggunakan implant koklea.

Implan kokhlea merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi tuli saraf berat, dan diperlukan adanya kerjasama tim dan dukungan yang kuat dari keluarga untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Klinik Cochlear Implant
Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk,

Telp (021) 588 5175