UNDUH JADWAL DOKTER

Cari Dokter

Spesialis
 

Nama


bergabung di komunitas kami

GAWAT DARURAT

021 588 5100

OPERATOR
021 588 0911
021 5035 0911

APPOINTMENT CENTER
021 588 0911


Berita » Stres Pada Anak

Stres Pada Anak

15 Nov 2016





pemahaman dan deteksi dini

Ani sudah tiga hari ini mengeluh sakit kepala, pusing, sulit tidur dan mual. Ibunya dibuat repot oleh karena Ani menolak belajar dan cenderung malas masuk sekolah dengan alasan tersebut, padahal saat itu sedang ulangan kenaikan kelas. Ibu Ani mencatat bahwa setiap berhadapan dengan ulangan tengah semester atau ulangan kenaikan kelas, Ani seringkali mengalami kondisi serupa. Di lain pihak Jono, teman sekelas Ani justru tampak lebih semangat dan giat belajar. Jono, menyadari bahwa ulangan kenaikan kelas kelas maupun ulangan tengah semester melibatkan bahan yang lebih banyak sehingga ia ekstra keras dalam belajar untuk medapatkan nilai yang baik. Jono, menolak ajakan temannya untuk bermain bola sementara ujian karena ia menyadari bahwa ia tidak boleh terlalu lelah agar energi belajarnya tetap tersedia. Ani dan Jono sama-sama merupakan anak yang cukup berprestasi selama ini namun bereaksi berbeda dalam menghadapi kejadian yang sama.

Mengapa kondisi yang sama menimbulkan pengaruh yang pada ke dua anak ini?

Pendahuluan

Stres dalam terminologi umum diartikan sebagai suatu kondisi ketegangan mental atau kecemasan yang disebabkan oleh suatu masalah atau kejadian tertentu dalam kehidupan dan merupakan suatu perasaan subjektif pada seseorang tidak terkecuali pada anak dan remaja. Han Selye pada tahun 1936 mengemukakan bahwa stress juga dapat diartikan sebagai respons non-spesifik dari tubuh terhadap tuntutan perubahan dari lingkungan maupun diri sendiri.1 Oleh karena itu, pada individu yang mengalami stress seringkali dijumpai berbagai keluhan fisik disamping ketegangan mental atau perasaan kecemasan saja. Keluhan fisik dapat berupa palpitasi, rasa terbakar di dada,  banyak berkeringat, kelelahan yang bersifat kronik, mual, muntah dan sebagainya.

Kejadian atau masalah yang potensial dapat menjadi sumber stres disebut sebagai stressor. Dalam kehidupan anak dan remaja banyak dijumpai kejadian atau masalah yang dapat menjadi sumber stres. Pada umumnya sumber stres dapat berasal internal (berasal dari dalam diri anak ) atau eksternal. Sumber stress yang bersifat internal dapat berupa  tuntutan pencapaian anak yang terlalu tinggi sehingga menjadi beban bagi anak itu sendiri, sifat perfeksionistik dan karakter pencemas, dan lain sebagainya. Sumber stres yang bersifat eksternal dapat berupa ulangan, lingkungan sekolah yang tidak mendukung, sikap teman sebaya yang terlalu menindas atau justru terlalu ingin terlibat dalam setiap kegiatan anak, pindah tempat tinggal, bullying, dll. Disamping itu, sumber stres juga dapat dikatagorikan sebagai sumber stres yang nyata (real stressor) dan sumber stres yang bersifat imajinasi (imagery stressor).2

Respons individu terhadap stres

Respons anak dan remaja terhadap sumber stres sangat tergantung dari kemampuan penyesuaian diri anak dan pemahaman anak dan remaja tersebut terhadap asal usul stres tersebut. Kemampuan penyesuaian diri seorang anak berkembang sesuai dengan bawaan biologis anak, tahapan perkembangan serta pola asuh orangtua. Anak yang berada di usia sekolah dasar diharapkan sudah mempu mengatasi berbagai kejadian yang ada di sekolah serta beradaptasi dengan positif terhadap kompetisi yang ada di antara teman sebaya oleh karena di usia tersebut mereka sudah mencapai tahapan industri sebagaiamana yang dikemukakan oleh Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya.

Adakalanya anak mengalami kesulitan atau menemukan masalah dan menjadi stres. Respons akut terhadap stres digambarkan oleh Walter Cannon pada tahun 1920 sebagai flight or fight response.2 Ia menggambarkan respons ini sebagai reaksi akut tubuh terhadap stres yang bersifat fisiologik dan timbul pada saat individu mengha-dapi kejadian yang mengerikan baik secara mental maupun fisik. Respons tersebut menyiapkan individu untuk bertahan/ berjuang atau justru menghindar/melarikan diri dari sumber stresnya. Dengan demikian, respons flight or fight ini juga merupakan salah satu mekanisme awal pertahanan diri individu untuk dapat berhadapan dengan sumber stres akut. Respons ini terjadi oleh karena amigdala yang merupakan bagian otak yang berkontribusi dalam memroses emosi seseorang mengirimkan sinyal ke jaras hipotalamus – hipofise yang berfungsi sebagai pusat komando, dan kemudian melanjutkan sinyal tersebut ke bagian lain otak untuk menyiapkan individu tersebut berespons terhadap sumber stres tersebut.

Gambar 1. Sistem model respons manusia terhadap sumber stres.3

Dengan berjalannya waktu, anak dan remaja dengan segala kemampuan yang sesuai dengan tahapan perkembangan yang telah dicapai akan terus berusaha untuk menyesuaikan diri terhadap sumber stres tersebut. Jika proses penyesuaian diri berjalan dengan baik maka ia akhirnya mampu mengendalikan sumber stres atau berjuang untuk melepaskan diri dari sumber stres tersebut dan memcapai keseimbangan dalam bentuk perasaan nyaman kembali. Namun jika individu tersebut gagal maka munculah dampak negatif terhadap sumber stres yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari anak dan remaja tersebut.

 

 Dampak stres terhadap kehidupan anak dan remaja

Contoh kasus di atas menggambarkan bahwa anak dan remaja dapat memberikan respons yang berbeda terhadap sumber stres yang sama. Ani tampak melarikan diri dengan tidak mau bersekolah (flight) dan Jono justru berusaha lebih keras agar dapat memenuhi target yang ingin ia capai (fight). Dengan demikian, dampak sumber stres terhadap kehidupan sehari-hari dapat bersifat negatif (pada Ani) atau positif (pada Jono). Dampak yang bersifat positif cenderung memberikan kekuatan pada anak dan remaja untuk berusaha lebih keras dan motivasi untuk terus maju sehingga mereka mampu berhadapan dengan berbagai tantangan hidup. Sebaliknya, dampak yang bersifat negatif membuat anak mengalami hendaya dan menderita.

Anak dan remaja yang tidak mampu mengelola sumber stres dalam hidup mereka seringkali mengalami berbagai masalah perilaku atau emosi atau bahkan mengalami gangguan jiwa. Mereka cenderung mudah dikuasai oleh perasaan cemas atau depresi, tidak jarang mereka didiagnosis dengan gangguan cemas, gangguan depresi atau gangguan perilaku lainnya seperti gangguan perilaku menetang dan pada anak remaja bisa disertai dengan gangguan tingkah laku (conduct disorder). Kondisi tersebut membuat anak dan remaja mengalami kesulitan belajar serta sulit menjalin interaksi dengan teman sebaya maupun dengan lingkungan sekitarnya sehingga kualitas dan produktivitas mereka sebagai anak dan remaja baik di rumah maupun di sekolah menjadi berkurang. Tidak jarang anak dan remaja ini menjadi gagal atau bahkan putus  sekolah sehingga menjadi masalah bagi lingkungan di sekitarnya.

Deteksi dini stres pada anak

Stres sebagaimana dijelaskan di atas merupakan suatu perasaan subjektif yang dapat berdampak terhadap aspek emosi, perilaku dan fisik seorang anak. Namun sampai ini masih sulit mencari alat ukur untuk deteksi dini stres pada anak. Oleh karena itu, orangtua atau guru atau keluarga perlu memberikan perhatian pada anak yang menunjukkan adanya perubahan perilaku, emosi atau perubahan fisik anak yang terjadi secara mendadak atau yang berjalan secara perlahan namun jelas ada perubahan dari waktu ke waktu.

Anak dan remaja acapkali mengalami kesulitan untuk mengemukakan perma-salahan atau kesulitannya secara verbal sehingga mereka mengkomunikasikannya dengan perilaku yang mereka tampilkan. Anak dan remaja yang mengalami stres seringkali menunjukkan perilaku maladaptif seperti mudah tersinggung atau marah, menarik diri dari berbagai kegiatan yang menyenangkan diri mereka, secara rutin mengemukakan bahwa mereka kawatir, bingung atau merasa sedih, sulit tidur atau justru banyak tidur, lebih banyak mengeluh dari biasanya terutama mengenai sekolah, teman atau apapun, lengket berlebihan dengan orangtua pada anak yang sebelumnya sudah mandiri atau sebaliknya remaja menjadi menentang dan cenderung melawan atau melakukan berbagai tindak kekerasan yang tidak dilakukan sebelumnya, menunjukkan perilaku hostilitas dengan teman sebaya atau orangtua, dsb.

Disamping itu, anak dapat juga mengkomunikasi stres yang mereka alami dalam berbagai keluhan fisik, seperti mual dan muntah yang berkepanjangan, nyeri lambung, sakit kepala tanpa sebab yang jelas, dsbnya. Jika keluhan fisik tersebut seringkali dijumpai pada saat mengalami ulangan di sekolah ataupun kegiatan tertentu di sekolah atau di lingkungan yang tidak disukai anak, maka kemungkinan anak mengalami stres menjadi lebih besar.  Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut harus menjadi sinyal dini bagi orangtua atau guru ataupun tenaga kesehatan bahwa anak dan remaja tersebut mungkin berhadapan dengan masalah atau kesulitan yang memerlu-kan bantuan untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan optimal.

Kesimpulan

            Stres merupakan suatu perasaan subjektif dan dapat dialami oleh semua kelompok usia, termasuk bayi, anak dan juga orang dewasa. Sumber stres pada anak dan remaja sangat beragam dan seringkali bersumber di sekolah dan di rumah. Selain iru, sumber stres tersebut dapat juga berasal dalam diri anak dan remaja itu sendiri. Respons anak dan remaja terhadap sumber stres akut merupakan respons flight or fight yang sebenarnya merupakan mekanisme tubuh untuk menyiapkan tubuh untuk mengatasi stres tersebut. Jika stres dapat diatasi oleh anak maka anak dan remaja maka memberikan  sumber kekuatan pada anak dan sebaliknya jka stres tidak dapat diselesaikan maka dapat memberikan dampak negatif yang tentunya menimbulkan hendaya dan penderitaan bagi anak. Orangtua, guru serta tenaga kesehatan perlu melihat tanda-tanda dini stres pada anak dan remaja sehingga dapat memberikan bantuan sehingga kualitas dan produktivitas mereka tetap terjaga.

Referensi

  1. What is Stress? http://www.stress.org/what-is-stress/ (diunduh pada tanggal 23 Juni 2016)
  2. Cherry K. What Is the Fight-or-Flight Response? http://psychology.about.com/od/findex/g/fight-or-flight-response.htm (diunduh pada tanggal 23 Juni 2016)
  3. G.S. Everly and J.M. Lating, A Clinical Guide to the Treatment 17 of the Human Stress Response, DOI 10.1007/978-1-4614-5538-7_2,

 

Penulis :

Dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ (K)

Praktek di RS.Pantai Indah Kapuk :

Senin & Selasa            : 16.00 – 18.00

Kamis & Jum’at          : 16.00 – 18.00